Get Out adalah film debut dari sutradara Jordan Peele. Film ini mungkin tidak terlalu terkenal (tidak ada aktor papan atas di dalamnya), namun sempat tayang di bioskop Indonesia. Meski tidak terkenal, film ini sangat bagus dan memberikan sesuatu yang baru.

Saya belum pernah menonton seri Planet of the Apes original yang diproduksi tahun 60-70an. Pun remake-nya yang dibuat tahun 2001. Namun saya beruntung telah mengikuti prekuel / reboot seri ini sejak Rise of the Planet of the Apes. Prekuel yang direncanakan sebagai trilogi ini (kabar terbaru menyebutkan bahwa trilogi ini masih akan dilanjutkan) boleh dibilang adalah salah satu trilogi terbaik sepanjang masa. Tautan kronologi cerita dibangun dengan teliti, mulai dari timbulnya konflik antara manusia dan kera, hingga terciptanya dunia apokaliptik akibat konflik tersebut, dan berpuncak pada klimaks pertempuran antara manusia dan kera. Tiap film dalam rangkaian trilogi ini sangatlah kuat, masing-masing merupakan film yang bermutu. Dan tibalah kita pada penghujungnya, War for the Planet of the Apes.

Salah satu pertanda film yang bagus (khususnya film superhero) bagi saya adalah munculnya perasaan senang dan terinspirasi setelah menontonnya. Wonder Woman adalah salah satunya. Dalam konteks yang lebih besar, film ini tidak hanya menginspirasi penontonnya, namun juga menjadi ‘harapan’ baru bagi DC Extended Universe (DCEU), yang setelah Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad dicela habis-habisan oleh para kritikus, menjadi suram masa depannya. Di tengah antisipasi Justice League (yang merupakan salah satu film andalan atau kulminasi DCEU), Wonder Woman muncul bak oasis di tengah gurun yang gersang, menyegarkan para penggemar (terutama yang bukan fanboy DC), bahwa masih ada secercah sinar bagi Justice League.

Tidak banyak film yang menggetarkan jiwa kita, membuat kita berpikir cukup lama setelah menontonnya. The Wailing adalah salah satu film tersebut. Film horor besutan sutradara Na Hong-Jin (sineas muda yang disebut-sebut sebagai generasi jenius setelah Park Chan-Wook dan Bong Joon-Ho). Setelah dua filmnya sebelumnya (The Chaser dan The Yellow Sea) lebih berupa thriller, The Wailing adalah horor murni dengan elemen supranatural yang kental. Namun berbicara tentang horor, Anda jangan membayangkan horor ala Hollywood dengan kejutan-kejutan menakutkan yang memanfaatkan efek suara keras secara tiba-tiba. Di dalam The Wailing, nyaris tidak ada kejutan mengagetkan seperti itu. Efek seram dan ketegangan yang disuguhkan lebih berupa efek psikologis. Namun ini justru lebih membuat kita terpaku dan tercengkeram dalam tautan narasi yang dirangkai dengan begitu pintarnya.

Wow. Sudah satu tahun blog ini tidak diupdate. 🙂 Semoga tahun ini ulasanfilm dapat lebih sering update blog ini (sekaligus jadi resolusi tahun baru, haha). Film pertama yang kita ulas di tahun ini adalah La La Land. Film ini sangat ramai diperbincangkan, termasuk salah satu film yang lagi hot saat ini. Para kritikus memberikan ulasan yang sangat sangat baik (93 poin di metacritic), dan di ajang Golden Globe kemarin, film ini memecahkan rekor sebagai film yang mampu meraih penghargaan terbanyak (7 penghargaan) di sepanjang sejarah Golden Globe. Dan setelah menontonnya, ulasanfilm pun berpendapat sama dengan para kritikus tersebut, memang film ini luar biasa.

Seri terbaru dari franchise Fast & Furious, Furious 7, sesuai judulnya, adalah sekuel dari Fast & Furious 6. Masih memuat tokoh-tokoh yang sama dengan seri sebelumnya (bahkan sama persis, hanya berkurang personel yang telah tewas / Han). Tokoh utama cerita ini, Dominic Toretto (Vin Diesel) dan Brian O’Conner (alm. Paul Walker) masih mendominasi jalan cerita. Plot yang dibangun juga masih seperti biasanya, yakni kelompok Dom ini harus menjalankan sebuah misi berbahaya yang melibatkan supercar cepat nan perkasa, tentunya.

Cinta, sebuah tema yang tak lekang oleh zaman. Dalam dunia film, tema cinta tak habis-habis dikupas dan diceritakan. Namun pernahkah kita merenungkan dengan sedalam-dalamnya, apakah cinta itu? Hal inlah yang nampaknya hendak dijabarkan melalui sebuah skenario nan elok dalam film Her. Sutradaranya, Spike Jonze, mengingatkan kita kepada karya-karya bermutu seperti Adaptation. dan Being John Malkovich. Kini ia menghasilkan sebuah karya yang sangat berbobot, baik dari kekuatan skenario, maupun dari penampilan para aktornya, sehingga film ini pun layak mendapatkan nominasi Oscar sebagai film terbaik.

Film yang berhasil menggondol penghargaan Oscar kategori film terbaik ini, memang merupakan film yang cukup unik. Judulnya Birdman: Or (The Unexpected Virtue of Ignorance), yang tergolong judul yang cukup panjang bagi sebuah film. Dari segi pemeran dan kru, film ini memang sangat berbobot. Sutradaranya Alejandro González Iñárritu, sutradara Meksiko yang sudah terkenal banyak menghasilkan film-film bermutu. Para aktornya juga berkualitas, sebut saja Michael Keaton, Emma Stone, Edward Norton, Naomi Watts. Dari semua nama-nama di atas ini, memang wajar bila fim ini berhasil mendapatkan penghargaan film terbaik di ajang Oscar.

St. Vincent adalah salah satu film drama feel good yang ringan dan mengetengahkan sosok humanis dari tokoh yang agak anti-hero namun sebenarnya berhati lembut. Tidak tanggung-tanggung, film ini dibintangi oleh beberapa bintang tenar, seperti Bill Murray selaku pemeran utama, dan Naomi Watts serta Melissa McCarthy.

Dari sutradara David Ayer, muncul film Fury. Film ini mengisahkan (secara fiksi) sebuah tank jenis Sherman yang diberi nama Fury, dari kubu tentara Sekutu pada Perang Dunia ke-2. Tank ini dikendalikan oleh lima orang kru, yang dipimpin oleh sersan Don ‘Wardaddy’ Collier (Brad Pitt). Mereka diberikan sebuah misi mematikan untuk menerobos garis wilayah musuh (Nazi Jerman), mempertahankan sebuah persimpangan jalan yang krusial dalam perang tersebut.