Salah satu film yang memperoleh nominasi Film Terbaik dalam Oscar 2020 ini memang adalah film yang sangat bagus. Menjadi dapat dipahami mengapa Greta Gerwig selaku sutradara dianggap telah diabaikan oleh academy, sebab dengan karya seperti ini, ia sangatlah layak menjadi nominasi. Little Women adalah film yang menutup tahun 2019 dengan manis.

1917 merupakan film dengan setting Perang Dunia I yang disutradarai oleh Sam Mendes. Sutradara yang sudah diakui kualitasnya lewat film-film bermutu besutannya seperti American Beauty, Jarhead, Road to Perdition, dan juga dua film box office James Bond, Skyfall dan Spectre. Kali ini Mendes menyuguhkan film perang yang sangat apik di semua aspek, tetapi bagi saya yang paling kuat dari film ini adalah aspek teknis yaitu pergerakan kamera, editing, sinematografi dan relasi hal-hal tersebut dengan narasi yang dibangunnya.

Film horor yang menyentuh. Itulah kesan yang saya dapat setelah menonton A Quiet Place. Dan kesan menyentuh ini perlu dicetak tebal, karena memang sangat mendalam. Kita beruntung karena belakangan ini muncul beberapa film horor yang non-konvensional, berani menerobos batasan style genre tersebut. Misalnya saja Get Out, The Witch, The Wailing, dan yang terbaru adalah Hereditary. Film-film ini sudah pasti tergolong horor, namun mereka mempunyai efek seram yang tidak mengandalkan jump scares semata-mata. Film-film ini mampu membuat kita berpikir dan merenungkan makna yang disampaikannya.

Satu lagi film dari Marvel Cinematic Universe telah dirilis, Black Panther. Film dengan bintang utama dan hampir seluruh pemerannya adalah orang kulit hitam ini merupakan film kedelapanbelas MCU. Delapan belas! Sulit dibayangkan, bukan? Betapa film-film yang diangkat dari komik Marvel ini mampu menjelma menjadi sebuah semesta yang megah, dan tidak hanya mampu bertahan, tetapi sanggup menjadi film-film yang bermutu tinggi. Ini tentu sebuah fenomena tersendiri di abad ini. Saingan terbesar Marvel, DC, sampai saat ini belum mampu untuk paling tidak memulai hal yang sama. Jadi, pencapaian Marvel, lewat kecemerlangan presiden Marvel Studios, Kevin Feige, sungguh merupakan pencapaian yang luar biasa dalam sejarah perfilman, bahkan mungkin dalam sejarah umat manusia.

It adalah salah satu film yang paling ditunggu di tahun 2017 lalu. Adaptasi dari novel horor karya Stephen King ini telah digagas sejak lama, dengan berbagai dinamika dalam proses produksinya. Hingga pada akhirnya Andy Muschietti menjadi sutradaranya setelah Cary Fukunaga mundur dari kursi sutradara. Para fans sangat mengimpikan adaptasi baru dari It, setelah miniseri televisinya telah menjadi cukup jadul (tahun 1990). Ini dapat dilihat dari trailernya yang ditonton 197 juta kali dalam waktu 24 jam pertama rilis (nomor dua terbanyak setelah Avengers: Infinity War).

Film animasi terbaru dari Pixar, Coco, menghentak layar lebar di penghujung tahun 2017 ini. Meski proses produksi film ini sangat panjang (konon sejak 2011), namun tidak banyak berita mengenainya hingga mendekati rilis. Maka terasa film ini bagaikan kejutan di akhir tahun, sebab film ini begitu bagus dan bahkan lebih bagus dari rilis Pixar yang saya anggap paling bagus akhir-akhir ini, Inside Out.

Justice League tayang di Indonesia. Ya, mulai 15 November kemarin, Justice League resmi muncul di layar lebar. Ini tentu sebuah privilese khusus bagi penggemar film di Indonesia, karena di Amerika sendiri, jadwal rilisnya baru tanggal 17 November mendatang. Film yang dilanda berbagai masalah dalam produksinya ini merupakan film yang digadang-gadang mampu melanjutkan sukses besar Wonder Woman bagi kubu DC Comics dan Warner Bros. Ide menyatukan para superhero DC dalam satu film sebenarnya sudah muncul sejak lama. George Miller sempat memulai produksi film Justice League pada tahun 2007, dan telah mengumpulkan para aktor pemeran tokoh superhero tersebut, namun proyek ini tidak berlanjut. Baru setelah DCEU (DC Extended Universe) dimulai dengan rilisnya Man of Steel pada 2013, Justice League kembali digarap.

Get Out adalah film debut dari sutradara Jordan Peele. Film ini mungkin tidak terlalu terkenal (tidak ada aktor papan atas di dalamnya), namun sempat tayang di bioskop Indonesia. Meski tidak terkenal, film ini sangat bagus dan memberikan sesuatu yang baru.

Saya belum pernah menonton seri Planet of the Apes original yang diproduksi tahun 60-70an. Pun remake-nya yang dibuat tahun 2001. Namun saya beruntung telah mengikuti prekuel / reboot seri ini sejak Rise of the Planet of the Apes. Prekuel yang direncanakan sebagai trilogi ini (kabar terbaru menyebutkan bahwa trilogi ini masih akan dilanjutkan) boleh dibilang adalah salah satu trilogi terbaik sepanjang masa. Tautan kronologi cerita dibangun dengan teliti, mulai dari timbulnya konflik antara manusia dan kera, hingga terciptanya dunia apokaliptik akibat konflik tersebut, dan berpuncak pada klimaks pertempuran antara manusia dan kera. Tiap film dalam rangkaian trilogi ini sangatlah kuat, masing-masing merupakan film yang bermutu. Dan tibalah kita pada penghujungnya, War for the Planet of the Apes.

Salah satu pertanda film yang bagus (khususnya film superhero) bagi saya adalah munculnya perasaan senang dan terinspirasi setelah menontonnya. Wonder Woman adalah salah satunya. Dalam konteks yang lebih besar, film ini tidak hanya menginspirasi penontonnya, namun juga menjadi ‘harapan’ baru bagi DC Extended Universe (DCEU), yang setelah Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad dicela habis-habisan oleh para kritikus, menjadi suram masa depannya. Di tengah antisipasi Justice League (yang merupakan salah satu film andalan atau kulminasi DCEU), Wonder Woman muncul bak oasis di tengah gurun yang gersang, menyegarkan para penggemar (terutama yang bukan fanboy DC), bahwa masih ada secercah sinar bagi Justice League.