Satu lagi film dari Marvel Cinematic Universe telah dirilis, Black Panther. Film dengan bintang utama dan hampir seluruh pemerannya adalah orang kulit hitam ini merupakan film kedelapanbelas MCU. Delapan belas! Sulit dibayangkan, bukan? Betapa film-film yang diangkat dari komik Marvel ini mampu menjelma menjadi sebuah semesta yang megah, dan tidak hanya mampu bertahan, tetapi sanggup menjadi film-film yang bermutu tinggi. Ini tentu sebuah fenomena tersendiri di abad ini. Saingan terbesar Marvel, DC, sampai saat ini belum mampu untuk paling tidak memulai hal yang sama. Jadi, pencapaian Marvel, lewat kecemerlangan presiden Marvel Studios, Kevin Feige, sungguh merupakan pencapaian yang luar biasa dalam sejarah perfilman, bahkan mungkin dalam sejarah umat manusia.

Justice League tayang di Indonesia. Ya, mulai 15 November kemarin, Justice League resmi muncul di layar lebar. Ini tentu sebuah privilese khusus bagi penggemar film di Indonesia, karena di Amerika sendiri, jadwal rilisnya baru tanggal 17 November mendatang. Film yang dilanda berbagai masalah dalam produksinya ini merupakan film yang digadang-gadang mampu melanjutkan sukses besar Wonder Woman bagi kubu DC Comics dan Warner Bros. Ide menyatukan para superhero DC dalam satu film sebenarnya sudah muncul sejak lama. George Miller sempat memulai produksi film Justice League pada tahun 2007, dan telah mengumpulkan para aktor pemeran tokoh superhero tersebut, namun proyek ini tidak berlanjut. Baru setelah DCEU (DC Extended Universe) dimulai dengan rilisnya Man of Steel pada 2013, Justice League kembali digarap.

Saya belum pernah menonton seri Planet of the Apes original yang diproduksi tahun 60-70an. Pun remake-nya yang dibuat tahun 2001. Namun saya beruntung telah mengikuti prekuel / reboot seri ini sejak Rise of the Planet of the Apes. Prekuel yang direncanakan sebagai trilogi ini (kabar terbaru menyebutkan bahwa trilogi ini masih akan dilanjutkan) boleh dibilang adalah salah satu trilogi terbaik sepanjang masa. Tautan kronologi cerita dibangun dengan teliti, mulai dari timbulnya konflik antara manusia dan kera, hingga terciptanya dunia apokaliptik akibat konflik tersebut, dan berpuncak pada klimaks pertempuran antara manusia dan kera. Tiap film dalam rangkaian trilogi ini sangatlah kuat, masing-masing merupakan film yang bermutu. Dan tibalah kita pada penghujungnya, War for the Planet of the Apes.

Salah satu pertanda film yang bagus (khususnya film superhero) bagi saya adalah munculnya perasaan senang dan terinspirasi setelah menontonnya. Wonder Woman adalah salah satunya. Dalam konteks yang lebih besar, film ini tidak hanya menginspirasi penontonnya, namun juga menjadi ‘harapan’ baru bagi DC Extended Universe (DCEU), yang setelah Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad dicela habis-habisan oleh para kritikus, menjadi suram masa depannya. Di tengah antisipasi Justice League (yang merupakan salah satu film andalan atau kulminasi DCEU), Wonder Woman muncul bak oasis di tengah gurun yang gersang, menyegarkan para penggemar (terutama yang bukan fanboy DC), bahwa masih ada secercah sinar bagi Justice League.

Seri terbaru dari franchise Fast & Furious, Furious 7, sesuai judulnya, adalah sekuel dari Fast & Furious 6. Masih memuat tokoh-tokoh yang sama dengan seri sebelumnya (bahkan sama persis, hanya berkurang personel yang telah tewas / Han). Tokoh utama cerita ini, Dominic Toretto (Vin Diesel) dan Brian O’Conner (alm. Paul Walker) masih mendominasi jalan cerita. Plot yang dibangun juga masih seperti biasanya, yakni kelompok Dom ini harus menjalankan sebuah misi berbahaya yang melibatkan supercar cepat nan perkasa, tentunya.

Dari sutradara David Ayer, muncul film Fury. Film ini mengisahkan (secara fiksi) sebuah tank jenis Sherman yang diberi nama Fury, dari kubu tentara Sekutu pada Perang Dunia ke-2. Tank ini dikendalikan oleh lima orang kru, yang dipimpin oleh sersan Don ‘Wardaddy’ Collier (Brad Pitt). Mereka diberikan sebuah misi mematikan untuk menerobos garis wilayah musuh (Nazi Jerman), mempertahankan sebuah persimpangan jalan yang krusial dalam perang tersebut.

Satu lagi film bioskop yang diangkat dari komik Marvel, Guardians of the Galaxy. Seperti The Avengers, film Marvel terdahulu, yang mengetengahkan sekelompok super hero, Guardians of the Galaxy juga senada, menghadirkan sekelompok “hero” yang bahu-membahu mengalahkan kejahatan.

Godzilla merupakan film terbaru yang mengetengahkan salah satu ikon dalam dunia film fiksi ilmiah, yakni Godzilla itu sendiri. Terakhir Ulasan Film menonton Godzilla versi 1998, yang apabila dibandingkan dengan Godzilla versi 2014 ini, kalah jauh kualitasnya.

Noah, film yang dilarang beredar di Indonesia karena masalah agama ini pada akhirnya bisa ditonton juga oleh Ulasan Film 🙂 . Film yang bertema religius sedikit banyak memang akan mengundang kontroversi, dan menimbulkan buzz tersendiri.

The Amazing Spider-Man 2 adalah sekuel dari The Amazing Spider-Manreboot dari serial film layar lebar Spider-Man sebelumnya (Raimi). Saat The Amazing Spider-Man diputuskan untuk dibuat (dengan demikian mengakhiri franchise milik Sam Raimi), banyak yang merasa keputusan ini terlalu cepat. Bayangkan, Spider-Man 3 tayang pada tahun 2007, hanya berselang lima tahun kemudian si pengayun sawang ini diulang kembali ceritanya lewat film yang baru. Namun, well, serial baru ini telah tiba, disutradarai oleh Marc Webb.

Top