Film horor yang menyentuh. Itulah kesan yang saya dapat setelah menonton A Quiet Place. Dan kesan menyentuh ini perlu dicetak tebal, karena memang sangat mendalam. Kita beruntung karena belakangan ini muncul beberapa film horor yang non-konvensional, berani menerobos batasan style genre tersebut. Misalnya saja Get Out, The Witch, The Wailing, dan yang terbaru adalah Hereditary. Film-film ini sudah pasti tergolong horor, namun mereka mempunyai efek seram yang tidak mengandalkan jump scares semata-mata. Film-film ini mampu membuat kita berpikir dan merenungkan makna yang disampaikannya.

It adalah salah satu film yang paling ditunggu di tahun 2017 lalu. Adaptasi dari novel horor karya Stephen King ini telah digagas sejak lama, dengan berbagai dinamika dalam proses produksinya. Hingga pada akhirnya Andy Muschietti menjadi sutradaranya setelah Cary Fukunaga mundur dari kursi sutradara. Para fans sangat mengimpikan adaptasi baru dari It, setelah miniseri televisinya telah menjadi cukup jadul (tahun 1990). Ini dapat dilihat dari trailernya yang ditonton 197 juta kali dalam waktu 24 jam pertama rilis (nomor dua terbanyak setelah Avengers: Infinity War).

Saya belum pernah menonton seri Planet of the Apes original yang diproduksi tahun 60-70an. Pun remake-nya yang dibuat tahun 2001. Namun saya beruntung telah mengikuti prekuel / reboot seri ini sejak Rise of the Planet of the Apes. Prekuel yang direncanakan sebagai trilogi ini (kabar terbaru menyebutkan bahwa trilogi ini masih akan dilanjutkan) boleh dibilang adalah salah satu trilogi terbaik sepanjang masa. Tautan kronologi cerita dibangun dengan teliti, mulai dari timbulnya konflik antara manusia dan kera, hingga terciptanya dunia apokaliptik akibat konflik tersebut, dan berpuncak pada klimaks pertempuran antara manusia dan kera. Tiap film dalam rangkaian trilogi ini sangatlah kuat, masing-masing merupakan film yang bermutu. Dan tibalah kita pada penghujungnya, War for the Planet of the Apes.

Tidak banyak film yang menggetarkan jiwa kita, membuat kita berpikir cukup lama setelah menontonnya. The Wailing adalah salah satu film tersebut. Film horor besutan sutradara Na Hong-Jin (sineas muda yang disebut-sebut sebagai generasi jenius setelah Park Chan-Wook dan Bong Joon-Ho). Setelah dua filmnya sebelumnya (The Chaser dan The Yellow Sea) lebih berupa thriller, The Wailing adalah horor murni dengan elemen supranatural yang kental. Namun berbicara tentang horor, Anda jangan membayangkan horor ala Hollywood dengan kejutan-kejutan menakutkan yang memanfaatkan efek suara keras secara tiba-tiba. Di dalam The Wailing, nyaris tidak ada kejutan mengagetkan seperti itu. Efek seram dan ketegangan yang disuguhkan lebih berupa efek psikologis. Namun ini justru lebih membuat kita terpaku dan tercengkeram dalam tautan narasi yang dirangkai dengan begitu pintarnya.

Wow. Sudah satu tahun blog ini tidak diupdate. 🙂 Semoga tahun ini ulasanfilm dapat lebih sering update blog ini (sekaligus jadi resolusi tahun baru, haha). Film pertama yang kita ulas di tahun ini adalah La La Land. Film ini sangat ramai diperbincangkan, termasuk salah satu film yang lagi hot saat ini. Para kritikus memberikan ulasan yang sangat sangat baik (93 poin di metacritic), dan di ajang Golden Globe kemarin, film ini memecahkan rekor sebagai film yang mampu meraih penghargaan terbanyak (7 penghargaan) di sepanjang sejarah Golden Globe. Dan setelah menontonnya, ulasanfilm pun berpendapat sama dengan para kritikus tersebut, memang film ini luar biasa.

Cinta, sebuah tema yang tak lekang oleh zaman. Dalam dunia film, tema cinta tak habis-habis dikupas dan diceritakan. Namun pernahkah kita merenungkan dengan sedalam-dalamnya, apakah cinta itu? Hal inlah yang nampaknya hendak dijabarkan melalui sebuah skenario nan elok dalam film Her. Sutradaranya, Spike Jonze, mengingatkan kita kepada karya-karya bermutu seperti Adaptation. dan Being John Malkovich. Kini ia menghasilkan sebuah karya yang sangat berbobot, baik dari kekuatan skenario, maupun dari penampilan para aktornya, sehingga film ini pun layak mendapatkan nominasi Oscar sebagai film terbaik.

Film yang berhasil menggondol penghargaan Oscar kategori film terbaik ini, memang merupakan film yang cukup unik. Judulnya Birdman: Or (The Unexpected Virtue of Ignorance), yang tergolong judul yang cukup panjang bagi sebuah film. Dari segi pemeran dan kru, film ini memang sangat berbobot. Sutradaranya Alejandro González Iñárritu, sutradara Meksiko yang sudah terkenal banyak menghasilkan film-film bermutu. Para aktornya juga berkualitas, sebut saja Michael Keaton, Emma Stone, Edward Norton, Naomi Watts. Dari semua nama-nama di atas ini, memang wajar bila fim ini berhasil mendapatkan penghargaan film terbaik di ajang Oscar.

St. Vincent adalah salah satu film drama feel good yang ringan dan mengetengahkan sosok humanis dari tokoh yang agak anti-hero namun sebenarnya berhati lembut. Tidak tanggung-tanggung, film ini dibintangi oleh beberapa bintang tenar, seperti Bill Murray selaku pemeran utama, dan Naomi Watts serta Melissa McCarthy.

Dari sutradara David Ayer, muncul film Fury. Film ini mengisahkan (secara fiksi) sebuah tank jenis Sherman yang diberi nama Fury, dari kubu tentara Sekutu pada Perang Dunia ke-2. Tank ini dikendalikan oleh lima orang kru, yang dipimpin oleh sersan Don ‘Wardaddy’ Collier (Brad Pitt). Mereka diberikan sebuah misi mematikan untuk menerobos garis wilayah musuh (Nazi Jerman), mempertahankan sebuah persimpangan jalan yang krusial dalam perang tersebut.

Menonton Locke, mengingatkan Ulasan Film pada Buried, karena kemiripan tipe kedua film ini, yakni hanya ada satu aktor utama di sepanjang film, yang hanya berinteraksi dengan suara aktor lain, dan keseluruhan film hanya terjadi di satu lokasi (nyaris). Ulasan Film sangat menikmati Buried, karena walau hanya berlokasi di satu tempat, dan satu aktor saja yang dominan, film itu tetap mampu menyajikan suspense yang luar biasa, dengan ending yang juga tak kalah menggetarkan.

Top