Satu lagi film dari Marvel Cinematic Universe telah dirilis, Black Panther. Film dengan bintang utama dan hampir seluruh pemerannya adalah orang kulit hitam ini merupakan film kedelapanbelas MCU. Delapan belas! Sulit dibayangkan, bukan? Betapa film-film yang diangkat dari komik Marvel ini mampu menjelma menjadi sebuah semesta yang megah, dan tidak hanya mampu bertahan, tetapi sanggup menjadi film-film yang bermutu tinggi. Ini tentu sebuah fenomena tersendiri di abad ini. Saingan terbesar Marvel, DC, sampai saat ini belum mampu untuk paling tidak memulai hal yang sama. Jadi, pencapaian Marvel, lewat kecemerlangan presiden Marvel Studios, Kevin Feige, sungguh merupakan pencapaian yang luar biasa dalam sejarah perfilman, bahkan mungkin dalam sejarah umat manusia.

Film animasi terbaru dari Pixar, Coco, menghentak layar lebar di penghujung tahun 2017 ini. Meski proses produksi film ini sangat panjang (konon sejak 2011), namun tidak banyak berita mengenainya hingga mendekati rilis. Maka terasa film ini bagaikan kejutan di akhir tahun, sebab film ini begitu bagus dan bahkan lebih bagus dari rilis Pixar yang saya anggap paling bagus akhir-akhir ini, Inside Out.

Justice League tayang di Indonesia. Ya, mulai 15 November kemarin, Justice League resmi muncul di layar lebar. Ini tentu sebuah privilese khusus bagi penggemar film di Indonesia, karena di Amerika sendiri, jadwal rilisnya baru tanggal 17 November mendatang. Film yang dilanda berbagai masalah dalam produksinya ini merupakan film yang digadang-gadang mampu melanjutkan sukses besar Wonder Woman bagi kubu DC Comics dan Warner Bros. Ide menyatukan para superhero DC dalam satu film sebenarnya sudah muncul sejak lama. George Miller sempat memulai produksi film Justice League pada tahun 2007, dan telah mengumpulkan para aktor pemeran tokoh superhero tersebut, namun proyek ini tidak berlanjut. Baru setelah DCEU (DC Extended Universe) dimulai dengan rilisnya Man of Steel pada 2013, Justice League kembali digarap.

Saya belum pernah menonton seri Planet of the Apes original yang diproduksi tahun 60-70an. Pun remake-nya yang dibuat tahun 2001. Namun saya beruntung telah mengikuti prekuel / reboot seri ini sejak Rise of the Planet of the Apes. Prekuel yang direncanakan sebagai trilogi ini (kabar terbaru menyebutkan bahwa trilogi ini masih akan dilanjutkan) boleh dibilang adalah salah satu trilogi terbaik sepanjang masa. Tautan kronologi cerita dibangun dengan teliti, mulai dari timbulnya konflik antara manusia dan kera, hingga terciptanya dunia apokaliptik akibat konflik tersebut, dan berpuncak pada klimaks pertempuran antara manusia dan kera. Tiap film dalam rangkaian trilogi ini sangatlah kuat, masing-masing merupakan film yang bermutu. Dan tibalah kita pada penghujungnya, War for the Planet of the Apes.

Salah satu pertanda film yang bagus (khususnya film superhero) bagi saya adalah munculnya perasaan senang dan terinspirasi setelah menontonnya. Wonder Woman adalah salah satunya. Dalam konteks yang lebih besar, film ini tidak hanya menginspirasi penontonnya, namun juga menjadi ‘harapan’ baru bagi DC Extended Universe (DCEU), yang setelah Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad dicela habis-habisan oleh para kritikus, menjadi suram masa depannya. Di tengah antisipasi Justice League (yang merupakan salah satu film andalan atau kulminasi DCEU), Wonder Woman muncul bak oasis di tengah gurun yang gersang, menyegarkan para penggemar (terutama yang bukan fanboy DC), bahwa masih ada secercah sinar bagi Justice League.

Satu lagi film bioskop yang diangkat dari komik Marvel, Guardians of the Galaxy. Seperti The Avengers, film Marvel terdahulu, yang mengetengahkan sekelompok super hero, Guardians of the Galaxy juga senada, menghadirkan sekelompok “hero” yang bahu-membahu mengalahkan kejahatan.

Noah, film yang dilarang beredar di Indonesia karena masalah agama ini pada akhirnya bisa ditonton juga oleh Ulasan Film 🙂 . Film yang bertema religius sedikit banyak memang akan mengundang kontroversi, dan menimbulkan buzz tersendiri.

The Amazing Spider-Man 2 adalah sekuel dari The Amazing Spider-Manreboot dari serial film layar lebar Spider-Man sebelumnya (Raimi). Saat The Amazing Spider-Man diputuskan untuk dibuat (dengan demikian mengakhiri franchise milik Sam Raimi), banyak yang merasa keputusan ini terlalu cepat. Bayangkan, Spider-Man 3 tayang pada tahun 2007, hanya berselang lima tahun kemudian si pengayun sawang ini diulang kembali ceritanya lewat film yang baru. Namun, well, serial baru ini telah tiba, disutradarai oleh Marc Webb.

Genre kaiju dan mecha merupakan genre populer dalam khazanah film fantasi Jepang. Guillermo del Toro mencoba meramu kedua genre ini ke dalam satu film yang walau tampak jelas merupakan homage kepada kedua genre tadi, tapi mampu menampilkan warna tersendiri, tidak terjebak dalam klise yang berlebihan.